Seorang Einstein

April 15th, 2009 by henriette-imelda
See??? How 'ancur' this man is?

See??? How

Ngebaca quotes-quotes yang dilontarkan oleh seorang Einstein membuat gue jadi berpikir tentang diri gue sendiri. Beberapa quotesnya itu menunjukkan bahwa Einstein sebenarnya adalah orang yang ‘ancur’ abis; bahkan mengingatkan gue sama salah seorang profesor gue di Bandung.

Quotes-nya itu tuh nyepet banget bin dalem bo.

“The difference between genius and stupidity is; genius has its limits.”

“If we knew what it was we were doing, it would not be called research, would it?”

“There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle.”

“I am enough of an artist to draw freely upon my imagination. Imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited. Imagination encircles the world.”

“Insanity: Doing the same thing over and over again and expecting different results.”

“Two things are infinite: the universe and human stupidity; and I’m not sure about the universe.”

Dari beberapa quote beliau yang gue baca kayak yang di atas, gue jadi berpikir bahwa orang jenius itu, sebenarnya ‘ancur’ abis!!!

Mungkin lo jadi bisa mikir, sebenarnya, lo itu genius atau… nerd???

ime’…

Membaca

September 15th, 2008 by henriette-imelda

Dari gue kecil, kalo’ gue ditanya hobinya apa, gue akan tulis “Membaca” tanpa tahu itu benar atau salah.

Dari gue selesai kuliah, CV gue selalu ada tulisan di bagian Hobbies/Interest, “Reading”, tanpa gue mengkaji ulang apakah gue emang bener-bener punya interest ke situ.

Di awal tahun 2008 ini, seolah-olah itu semua terjawab. Gue juga nggak ngerti kenapa, tapi, beberapa orang sampe’ bilang, gue freak sama yang namanya membaca. Gue kenal sama seseorang (yang sekarang jadi temen gue yang bisa diajak ketawa terhabak-habak) juga lewat aktivitas gue membaca.

Tapi jujur deh, sebelumnya, gue nggak se-freak ini dalam hal membaca buku. Dulu, gue benci banget baca koran; majalah??? Pasti nggak abis gue baca. Sekarang? Tiap hari gue baca koran, kecuali hari Minggu. Soalnya tiap hari Minggu, jam 7 pagi gue udah kabur dari rumah. Bagi gue, baca koran itu enaknya pagi-pagi. Reader’s digest pasti gue abis’in semua artikel-artikelnya.

Beberapa hal yang memacu gue untuk membaca adalah kegemaran gue dalam menulis. One said that “A good writer is a good reader.” Itu yang ngebuat gue semakin gila dalam membaca. Di bis, di pesawat, di atas mobil (di atep?), di mana aja, gue selalu baca. Bahkan kalo’ lagi nunggu’in kelas di gym. Walaupun gue akui juga, sekarang-sekarang ini, gue malah lebih keranjingan baca daripada nulis. Salah nggak yah?

Eniwei, as August passed, gue mencoba untuk mengingat-ingat, buku-buku apa aja yang udah gue baca.

Rumah Kaca

Beberapa quote sempet gue contek disini dan gue taro’ di facebook boooo (ya ampun, kayak nggak ada kerjaan aja deh lo, me’!!!).

… ada kekuatan-kekuatan dahsyat tak terduga yang bisa timbul pada samudra, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.

The Witch of Portobello

Buku yang gue baca sampe’ ke Toraja. Beberapa quotes sangat menampar gue, cuman gue lupa untuk wrote it down, dan gue amat sangat kesulitan mencarinya di buku tersebut. Tapi ada satu yang paling gampang nyarinya:

Love simply is.

Reader’s Digest

Reader's Digest August

Majalah yang satu ini gue kenal dari bokap gue. Dari waktu gue kecil, gue sering banget ngeliat bokap gue baca majalah ini. Itu sebabnya, sekarang giliran gue yang beli itu buku dan bokap gue tentu aja boleh baca juga.

Edisi Agustus kemaren adalah tentang Olympic games. Beberapa quotes nemplok di kepala gue, seperti:

“The way I see it, from now on, every day is a good day” [William Pike]

Ini adalah quote dari seorang muda yang berada di ambang kematian saat dia ada di gunung vulkanis, Ruapehu di Selandia Baru. Walaupun ia selamat, namun kaki kanannya harus diamputasi. Namun, hal itu nggak ngebuat dia kecil hati. Yang jelas, dia jadi sangat menghargai hidupnya, makanya, dia keluarin quote yang di atas. Most of us are much luckier than he does; so, is there any reason to complain?

“If you win but don’t help somebody when you should have, what win is that?” [Bjoernar Haakensmoen]

Seorang pelatih ski tim Norwegia di tahun 2006 yang membantu Sara Renner dari tim Kanada, saat ia mengalami kerusakan pada ski-nya. Akibatnya, tim Kanada mendapatkan medali perak dan Norwegia berada di tempat yang keempat.

“The important thing in the Olympic Games is not winning but taking part. The essential thing in life is not conquering but fighting well.” [Pierre de Coubertin, founder of the modern Olympic Games]

So true isn’t it? For me, it is so really true.

Yah, itu beberapa hal yang gue dapet aja dari buku-buku yang gue baca di bulan Agustus ini. September ini, gue bakalan baca apa yah? Heheheheh… ada ide? Atau mungkin, ada yang mau beli’in gue buku? Yah, minjem’in deh… *perasaan buku-buku yang gue pinjem di perpustakaan kantor belum tuntas gue baca deh*

Ime’…

PS: i hate the new look of friendster’s blog.

Again??? (4)

July 10th, 2008 by henriette-imelda

Ini adalah tulisan
blog rally, setelah sekian lama gue nggak nulis blog rally, sekarang gue nulis
lagi. Kalo’ emang tertarik untuk ngikutin ceritanya, silahkan ikutin link-nya,
OK?Dan sumpah deh… kali ini blog rally gue panjang banget. Mudah-mudahan nggak
bosen.

sambungan dari sini

Minggu, 22 Juni 2008

Ulang tahun Jakarta dan… kekalahan Belanda. Nangis darah gue.

Hari Minggu, it is supposed to be my mostly extraordinary
day in a week. Kenapa? Hari Minggu itu selalu gue lewatkan dengan ke gereja di
pagi hari, terus ngacir ke gym, sepedahan sama ‘bapak tiri’, stretching di
BodyBalance sama ‘ibu kandung’ dilanjutin sama Yoga-nya ‘ibu tiri’. But then, I
have to strip those pictures off today. This Sunday, it is just a different
Sunday.

Gue pun melakukan apa yang gue biasa lakukan di RS.

Tiba-tiba, seorang dokter masuk, padahal gue nggak berharap
dokter gue bakalan visit hari Minggu ini. Ternyata emang bukan dokter gue yang
nanganin gue yang dateng tapi penggantinya; dokter yang nanganin gue waktu gue
gatel-gatel. Dokter ini minta gue untuk di-tes
darah. “Kalo’ lekosit kamu dibawah 10 ribu, kamu boleh pulang. Yang terakhir
adalah lekosit kamu 15 ribu,” hah? Yang ini nggak pernah dikasih tau sama
dokter yang nanganin gue. Gue jadi bingung.

Ada dua hal sebenarnya; yang pertama dokter
gue gak tau cuman dia nggak mau ngasih tau kalo’ dia gak tau, yang kedua, dia
tau cuman berhubung gue bukan orang yang ngerti istilah-istilah kedokteran,
jadi dia nggak mau gue malah tambah pusing sama istilah-istilah kedokteran. Gue
beranggapan dokter gue yang kedua.

Gue melanjutkan aktifitas gue di RS.

2008_dari_hp_023
Perkembangan gue mulai kerasa. Gue udah mulai makan banyak.
Kadang-kadang habis, tapi kebanyakan nggak. Umumnya, gue jadi nggak bisa
mencerna nasi. Terasa lebih sulit di gue. Tapi kalo’ lauk-pauk, gue lebih mudah
untuk mencernanya; perut gue nggak banyak protesnya. Gue sangat yakin kalo’
Senin besok gue udah boleh pulang. Pinggang gue udah extremely sakit dan gue
nggak boleh berjalan terlalu jauh. Gue jalan-jalan aja di kamar gue, toh gue
sendirian.

Susah juga sih, baru sekitar 15
menit jalan, gue udah pusing-pusing. Jadi, guenya serba salah. Cuman gue pikir,
daripada nggak gue mulai biasa’in? Pulihnya jadi lebih lama.

Hari Minggu ini, seorang yang sangat setia ngebangunin gue
di hari Minggu pagi
dateng menjenguk. Dia sempet kirim SMS manis yang bilang
gini, “Me, even lu ga dateng, gw tetep duduk dtmpt qta” uuuhhh… co cuiiittt….
So, kita ngobrol deh macem-macem, sampe’ akhirnya jam menunjukkan pukul stengah
10 dan dia memutuskan untuk pulang (ya iyalaaaaahhhhh!!! Dah malem!!!!).

Gue hampir aja kabur dari RS (heheheh), tapi dicegat sama
susternya, ketahuan. Lagian, gue juga masih pake’ piyama-nya RS.

Jam 11 gue tidur, untuk bangun menunggu partai
Spanyol-Italy.

Senin, 23 Juni 2008

Spain won the game!!! Yeah!!! It makes my day alright.

Senin pagi, waktu gue baru selesai mandi dan baru baca
beberapa lembar dari buku Pramoedya yang lagi gue baca, dokter gue udah dateng.
Ih, tumben bangeeett!!! Biasanya dia dateng sore-sore gitu deh. Tapi pagi jam
9, dia udah dateng. Gue langsung naik ke tempat tidur gue, langsung tiduran,
siap diperiksa lagi perutnya.

Belum diperiksa, dokter gue udah bilang, “Dari kaca udah
kelihatan kamu,” sambil ketawa.2008_dari_hp_022

“Pulang sekarang???” tanya si dokter.

“Iya iya iya…” gue girang waktu dia tanya gitu. Well, he
promised me on last Saturday that I could go home on Monday.

Terus dia periksa gue dan bilang, “Boleh pulang,” katanya
sambil senyum.

Dia masih ngajakin gue ngobrol sih, kerja dimana,
macem-macem gitu. Deep down inside, sebenarnya gue tau, penyakit gue itu belum
100% pulih. Tapi gue merasa mual gue udah berkurang sangat banyak dan gue
pengen pulang. Dokter gue langsung ngecek semua obat-obat gue dan bilang, “Yup,
obat-obat itu aja yang dikasih.”

Gue langsung sibuk SMS semua orang. I’m coming home today.

Dan iya, gue pulang sekitar jam 2 siang dari rumah sakit.
Ninggal’in kamar yang udah gue tempat’in selama 7 hari 6 malam dan memberikan
pada gue waktu-waktu menyendiri yang luar biasa.

Gue dikasih istirahat 3 hari pasca dirawat. Kenapa??? Karena
gue banyak bedrest, jadi untuk mengembalikan keseimbangan gue ke asalnya lagi.
And you know what??? It took me quite sometime to live a life of Ime’ lagi.

bersambung ke sini

ime’…

Again??? (3)

July 10th, 2008 by henriette-imelda

Ini adalah tulisan
blog rally, setelah sekian lama gue nggak nulis blog rally, sekarang gue nulis
lagi. Kalo’ emang tertarik untuk ngikutin ceritanya, silahkan ikutin link-nya,
OK?Dan sumpah deh… kali ini blog rally gue panjang banget. Mudah-mudahan nggak
bosen.

sambungan dari sini

Kamis, 19 Juni 2008

Hari Kamis, gue berharap hari ini udah boleh pulang. Rekor
gue kan, 3
hari 2 malem boooo. Ternyata, gue blon diboleh’in pulang. Mual gue masih ada
tapi gue udah nggak diare. Sebenarnya, gue pengen geplak deh orang yang
nyebarin gossip di rumah sakit kalo’ gue itu ada diare-nya. Gue tuh nggak
diare!!! Cuman poop gue emang viskositasnya lebih rendah dari biasanya,
slurry-lah. Itu pun keluarnya cuman sekali. Karena setiap suster yang dateng
nge-cek gue selalu nanya, “Masih diare-nya???” Gila apa??? Siapa yang nyebar
gossip???

Gue blon diboleh’in pulang karena mual. Tapi di hari ini
sih, infus gue dicabut.

Jum’at, 20 Juni 2008

Dokter gue dateng lagi. Mual gue masih ada dan dokter gue
bilang, “Perut kamu masih kembung.” Hari ini ada dokter yang satu lagi, cewek,
bilang gini, “Diteropong aja, dok?” Gue yang langsung klik sama kata
‘Endoscopy’ (suatu metodologi yang merupakan ancaman bagi gue, siaga satu),
terus gue langsung nengok ke dokter gue. Dia cuman merhati’in gue, terus
bilang, “Jangan dulu deh, kita tambah dulu sama obat sirupnya.”

Dokter gue nambah’in, “Kalo’ diteropong sih, cuman 5 menit.”
Terus gue tambah’in lagi (dalem hati), “Tapi sakit!!!”

Dokter gue senyum-senyum aja sih ngeliat gue. Terus dia
ngajak gue ngobrol soal buku yang lagi gue baca, Pramoedya Ananta Toer, Jejak
Langkah
, buku ketiga dari tetralogi Buru.
Dia kayaknya tertarik banget sama buku itu. Soalnya menurut dia, itu (masih)
jadi buku terlarang. Di jamannya alm. Soeharto, buku-buku karya Pramoedya emang
dilarang untuk beredar.

Eniwei, gue kembali dalam aktivitas gue di rumah sakit. Dan
gue harus tidur sendirian.

Sabtu, 21 Juni 2008

Jujur aja, anggapan gue bahwa di rumah sakit itu nggak
banyak yan2008_dari_hp_021g bisa dikerjain
selain tidur-nonton-makan-tidur-nonton-makan adalah
nggak bener. Gue masuk RS bersama dengan 4 buku gue yang gue baca bergantian
dalam satu hari. Mulanya gue baca Pramoedya, terus gue baca soal battlefield of
the mind
, terus baca bible gue. Udah selesai baca tiga
itu, biasanya sekitar jam 11-an, waktunya buat acara gossip, jadinya gue nonton
deh.

Setengah 12 makanan gue udah dateng dan gue masih nonton gossip.
Biasanya gue makan jam 12 dan selesai makan bisa jam 1-an. Kenapa? Gue butuh
waktu yang cukup lama untuk mencerna semua makanan. Begitu jam 1, gue baca buku
lagi. Jam 2 atau setengah 3 udah ngantuk, gue tidur siang. Bangun jam 4, baca
buku lagi. Jam 5 gue nonton berita; setengah 6 makanan dateng dan gue nonton
sampe’ sekitar jam 8-an. Well yah, tergantung acaranya sih. Karena Sabtu ada
Extravaganza, gue nonton sampe’ jam 9. Terus, gue mati’in TV dan baca buku lagi
sampe’ sekitar jam 11. Jam 11 gue tidur, karena jam 1-nya gue harus bangun
lagi, untuk nonton Euro (hahahahhaha).Gila kan jadwal gue??? Ngeliat hal yang kayak gitu, gue jadi berkurang stress-nya.
Karena walaupun gue di rumah sakit, gue sadar ada begitu banyak hal yang gue
nggak akan bisa kerjain ketika gue lagi beraktifitas sebagaimana biasanya.
Gile, gimana kalo’ ada wi-fi yah? Gue nge-blog terus kayaknya.

Masuk rumah sakit kali ini, gue jadi belajar bahwa emang ada
begitu banyak hal yang bisa gue lakukan hanya saja, gue terlalu terpaku sama
begitu banyak hal. Terlalu banyak keikut arus emosi gue plus napsu olahraga ama
nonton yang lagi tinggi banget.

Di hari Sabtu ini, beberapa temen gue dari DATE dateng
ngunjung’in gue. Lucu aja karena mereka datang berkunjung. Gue jarang banget
ketemu mereka soalnya. Mereka nggak satu DATE sama gue, tapi justru mereka yang
dateng. Temen satu DATE gue malah nggak keliatan. Eniwei, gue terkagum-kagum
sih waktu dengerin cerita salah satu orang tentang ‘dia yang namanya (sangat)
tidak boleh disebut’ dan juga waktu ngeliat salah seorang temen gue yang
nge-hang-nya masih segitu-gitu aja, nggak berkurang. It was nice meeting them.
Mudah-mudahan, gue jadi lebih banyak waktu juga untuk ngobrol sama mereka
afterwards.

bersambung

ime’…

Isi Kepala

May 30th, 2008 by henriette-imelda

Gue selalu merasa isi kepala gue nggak ada habis-habisnya. Kalo’ aja komputer blon diciptakan, gue berani jamin, nggak cuman bolpen kantor bakalan abis tintanya dua kali lipat (kayaknya yang paling sering abis isi bolpennya di kantor cuman gue deh), dan buku-buku tulis bekas gue pun beneran bakalan abis.

Kepala gue sekarang ini isinya cuman olahraga aja. Kalo’ denger lagu Don’t Bother-nya Shakira, gue akan inget track Pace RPM. Kalo’ gue denger lagu I Won’t Go Home Without You-nya Maroon 5, gue bakalan inget track-nya Body Balance. Kalo’ gue denger Girl Friend-nya Avril Lavigne, gue bakalan inget bodycombat. Nggak usah pake’ merem, gue udah bisa kebayang beat yang mana, gerakannya apa. Nggak usah pake’ merem, gue malah bisa ngeliat monitor gue itu bukan bacaan-bacaan serius, yang ada malah gerakan-gerakan gue. Bahkan gue sering ngerasa, kalo’ gue lagi ada di row kedua dari depan, sepeda urutan ke 7 di sebelah kiri kelas, sebelah kanannya instruktur. Itu lapak gue di cycling studio.

Gue bahkan sampe’ berpikir, kalo’ misalnya gue nggak sempet untuk nge-gym, kenapa gue nggak nge-gym di kepala gue aja? *ih… weirdo!*

Pokoknya, gue mau numpah’in isi kepala gue. Pengennya sih, gue nggak mungut’in lagi apa yang gue tumpah’in yah. Gue mendingan dapet kucuran dari tempat laen, biar kebilas sisa-sisa ilmu lama.

Pasti pada bingung gue ngomong’in apaan. Sama sih, benernya gue juga.

Ah… jadi pengen RPM lagi. Nyambung Balance, terus Yoga. Tapi gue juga pengen combat. Huh… dasar… susahnya kalo’ udah suka olahraga, badan jadinya nagih.

ime’…

Salatiga (2)

April 4th, 2008 by henriette-imelda

sambungan dari sini

tulisan ini adalah tulisan blog rally, dimana cerita ini bersambung dari satu blog ke blog lainnya. untuk bisa ngikutin cerita ini, ikutin aja link-nya :) enjoy!!!

Gue udah pusing nyari-nyari di dalem bandara,
ternyata nggak di dalem boooo…. DI LUAR!!!! Huuuu uuuuhhhhh!!!!!!!!!!!! Dan
ternyata juga, waktu gue nyampe’ informasi, orang informasinya cuman bilang
gini, “Oh iya, bu, dari Quality (nama hotel tempat gue bakalan nginep di
Salatiga), katanya masih dalam perjalanan,” hah??? Well yah… sudahlah… mau
gimana lagi??? (btw, ini pesawat kok parkir deket banget yah sama ruang
tunggu??? – gue nulis bagian ini di bandara Ahmad Yani, dalam perjalanan pulang
ke Jakarta)

Eniwei, jemputan gue dateng. Seorang pemuda
manis (beneran manis), Manajemen UKSW angkatan 2000 (buseeeeddd!!!!), dia kerja
jadi supir di sebuah rental (kayaknya punya dia eniwei) yang kerja sama ama
tempat gue nginep.

Sepanjang perjalanan, kita (tepatnya dia)
banyak ngobrol. Setelah gue nyelesai’in baca koran The Jakarta Post yang gue
embat di pesawat, si mas-mas ini mulai cerita tentang legenda Salatiga (yang
gue nggak ngerti juga), Rawa Pening (well, masih masuk logika gue) dan Gajah
Putih (yang membuat gue nanya sama dia, “Emang kalo’ ada Gajah Putih kenapa?”
dan dia juga nggak tau). O iya, dia juga
nunjukin JALAN MASUK ke candi Songo (mbok ya dibelok’in gitu loh, masuk bentar,
terus keluar lagi).

Mas-mas ini sebenarnya orang Jogja, tapi dia
sekolah di Salatiga; yang tentu saja membuat gue bertanya, “Kenapa nggak
sekolah di Jogja aja?” dan dijawab, “Terlalu banyak tempat hiburan, takut nggak
kuat iman…” untung gue nggak ngakak di depan dia. Sumpe’, itu jawaban yang
paling ngebuat gue bingung.

Singkat cerita, gue nyampe’ di UKSW. Masih
mabok, karena tidur gue nggak bener selama beberapa hari terakhir, cuman buat
mikirin pesawat yang jam 6, gimana naiknya???? *ya naik aja*

Selagi gue nunggu giliran gue untuk
presentasi, gue ngeli’at ke sekeliling gue. Gue duduk di tengah-tengah (di
belakang sih sebenarnya) guru-guru SD-SMA. Rasanya nggak pernah kebayang sama gue
bisa ada di antara mereka dan kemudian berkontribusi untuk memperkaya ilmu
mereka. Bagi gue, guru adalah harta yang sangat berharga bagi gue. itu
sebabnya, gue jadi agak bingung aja, karena gue tiba-tiba harus
mempresentasikan sesuatu yang gue nggak akan bisa presentasi kalo’ bukan karena
mereka (siapa coba yang ngajarin gue baca sama nulis?).

Lucu sih… kesederhanaan orang-orang Salatiga
ini ngebuat gue merasa berada di dunia lain; berbeda dengan Jakarta yang
rasanya banyak banget beban mental di diri gue.

Akhirnya, giliran gue tiba. Beberapa
pertanyaan gue jawab dengan senang hati, karena gue tau kualitas pertanyaan
mereka akan sangat berguna untuk anak-anak didik mereka. Walaupun, gue noticed,
ada sekelompok guru yang selama gue presentasi tuh cekikikan sendiri di barisan
belakang. Sekarang gue baru nyadar, kenapa dulu guru-guru itu pada nggak suka
kalo’ anak-anak didiknya ngobrol sendiri di belakang, itu pemandangan yang
nggak enak dan sedikit ‘mengintimidasi’ elo, kalo’ elo sebenarnya membosankan.
Tapi, gue pikir, apa yang harus gue sampe’in, ya gue sampe’in aja. Ini bagus
kok buat anak-anak.

bersambung ke sini

ime’…

Beberapa Cerita Pendek (2)

March 4th, 2008 by henriette-imelda

sambungan dari sini

Nggak tahan

Gue nggak tau
dengan kalian, tapi, gue adalah orang yang juga sering tergoda dengan makanan.
Heheheheh…
we all do, right? Even kalo’ dibilang, "Ntar gendut looohhh," kadang nggak
peduli.

Nah, bagi gue, kalo’ tiga jenis makanan ini ada di meja
makan (atau kulkas) saat gue nyampe’ rumah (yang umumnya udah malem; paling
cepet jam 10-an), gue bisa kalap.

Pertama, krupuk warna warni. Krupuk yang satu ini, gue
nggak
tau kenapa, enak banget rasanya. Mungkin efek rasa pewarnanya. Tapi, nggak juga
ah. Krupuk yang satu ini emang enak menurut gue. Well, despite of the
incapable-Img_2510nya gue terhadap rasa (lidah gue nggak bisa beda’in mana yang enak
sama nggak enak; kata tante gue, bagi gue, cuman ada 2 rasa: enak dan sangat
enak), kalo’ gue harus memilih makan krupuk mana, gue akan memilih krupuk yang
satu ini. Walaupun yah, gue sedikit trauma akibat makan krupuk (jenis lain)
yang palsu nan jahanam sehingga ‘meminta’ gigi geraham gue, gue cuek aja
makan’in krupuk ini. Gue bisa abis’in sendirian ni krupuk, terutama kalo’ gue
lagi laper berat.

Img_2513_1 Kedua, singkong goreng. Gue nggak tau siapa yang ngajarin
gue makan singkong. Cuman, gue suka banget singkong goreng dan singkong rebus,
yang dimasak tapi nggak lembek; keras gitu, yah nggak keras-keras amat yah. Kayaknya… sekel gitu deh (sekel? Sekeleton??? – tulang, red). Biasanya, gue suka makan singkong pake’ sambel
botol.
Kalo’ ada sambel trasi, gue makan pake’ sambel trasi. Enak deh…

Kalo’ singkong ini masih rada banyak di meja makan pas gue
balik, gue bisa makan 10 potong, dengan ukuran yang ada di gambar yah.

Img_2514_1

Ketiga, pepaya. Nah yang satu ini, gue nggak pernah merasa
bersalah ngabis’innya. Well, merasa
bersalah juga sih, soalnya
kan,
itu jatah satu rumah, tapi gue bisa bersihin semua-muanya. Kekekekekekkk…

Kalo’ kelean,
paling nggak tahan sama apa???

Bersambung ke sini

ime’…

Cerita tentang keluarga gue… (1)

February 26th, 2008 by henriette-imelda

Cerita tentang
Mama

Gue punya cerita,
tentang keluarga gue (ya eyalaahhhh… kalo’ dari judulnya ya pasti tentang
keluarga :D).
Gue kali ini
mau cerita tentang keluarga gue dari pihak Mama.

Gue punya ayah
dan ibu kandung, tapi Mama meninggal tahun 1990 akibat kanker otak yang (konon
kabarnya) sudah menjalar kemana-mana. Mama meninggal tanggal 14 Maret 1990, di
umurnya yang ke 48 (masih sangat muda menurut gue) dan dua hari sebelum ulang
tahun gue yang ke-12; waktu itu, gue lagi ada di bangku 1 SMP, semester 2. Yang
gue inget, waktu itu Rabu dini hari, jam 2 pagi, ada telfon interlokal dari
Papa yang bilang kalo’ Mama udah nggak ada.

Seingat gue, gue nggak
pernah mengenal mama gue sedemikian dekatnya; yang gue inget, Mama gue adalah
orang yang pertama ‘ngajarin’ gue minum kopi (waktu bayi, gue ‘step’ – bukan
bodystep - di tengah jalan, dan Mama langsung banting stir ke warung terdekat
untuk ngasih gue kopi; konon kabarnya, it helps untuk reduce step itu); Mama
gue adalah orang yang selalu ada di saat gue sakit gigi, operasi gigi, cabut
gigi dan semua penyakit yang berhubungan dengan gigi; Mama gue adalah orang
yang juga selalu ada buat gue waktu gue sakit panas (apapun bentuknya, she’s
there); dan tentu saja… Mama gue adalah orang yang memperkenalkan gue dengan
bakso :D kalo’ gue sakit, gue selalu minta bakso sama Mama and she always
granted to me *entah dia beli yang mentah atau yang mateng, pokoknya whenever I
asked for bakso, it’s there, ready to be eaten*

Oh ya satu lagi, Mama adalah orang yang pertama mengajarkan
sama gue, bahwa mobilitas kita itu nggak harus tergantung sama yang namanya
mobil pribadi, bisa pake’ kendaraan umum yang namanya bis… yes, she taught me
untuk naik bis (SD, abis cabut gigi di rumah sakit, pulang naik bis… ugh…)

But that’s it…

Gue even didn’t notice kalo’ Mama itu seneng banget dandan
*eyes will go straight to her whenever she’d passed by*, a real genuine lady
(nggak kebayang kalo’ beliau masih hidup, kayaknya gue dimarah’in terus dan…
sandal jepit gue nggak akan bisa gue pake’ kemana-mana lagi). Mama terakhir
terlihat botak, karena kemoterapi yang harus dijalaninya, tapi beliau bisa aja
ngebuat kebotakannya itu menjadi suatu asset untuk bisa bergaya (she wore hats,
kain entah dililit-lilit gimana gitu di kepalanya gue nggak tau, pokoknya ada
deh); she’s my mom… kreatif, I must say…

Dulu, Mama sempet beli’in gue boneka binatang besar (segede
gue deh waktu itu), bulunya putih dan panjang-panjang, kakinya bercakar dari
bahan kulit, telapak kakinya berwarna kuning, dengan beberapa bulatan hitam
(dari bahan kulit juga) di telapaknya. Gue suka banget sama boneka itu. Mama
membeli boneka itu seharga 40.000 rupiah (mungkin kalo’ sekarang lebih mahal
lagi yah). Mama tau, kalo’ gue suka
banget sama boneka-boneka binatang (even sampe’ sekarang, gue masih suka dengan
boneka-boneka binatang :D). Boneka itu selalu mengingatkan gue sama Mama dan
tante Kobi.

Dan sekarang, gue
mau cerita tentang tante Kobi. 

Bersambung ke sini

ime’…

Garukan Maut

February 15th, 2008 by henriette-imelda

Ini adalah tulisan
blog-rally, dimana gue melibatkan beberapa blog gue untuk nulis cerita gue.
Silahkan diikutin kalo’ emang merasa perlu. Kalo’ nggak perlu, silahkan ke
loket terdekat untuk membayar biaya administrasi. Ikutin aja link-link-nya
untuk tau cerita keseluruhan. Selamat berjuang. Doakan saya *tangan membentuk
huruf V yang sebenarnya berarti Victory, tapi selalu diiringi dengan kata ‘Peace’.
Kalo’ emang artinya ‘Peace’, kenapa nggak melibatkan dua tangan aja dan
membentuk huruf P? Bodonya lagi, kenapa gue bahas disini??* niwei, enjoy.

Waktu hari apa yah? Kalo’ nggak salah hari Sabtu tiga minggu
yang lalu, tangan gue berasa gatel banget. Otomatis, gue garuk dong. ternyata,
setelah beberapa hari, gatel gue itu menjadi-jadi, nggak cuman di tangan doang,
tapi lari ke perut, paha, kaki hingga sekujur tubuh gue semuanya gatel
daaaaaaaaaaaaaaannnnnnnn bintik-bintik merah. Gue aja sampe’ ngeri ngeliat diri
gue sendiri.

Anehnya, badan gue sih nggak panas, tapi, gatelnya bikin gue
tersiksa dan sangat mengganggu. Blon lagi, kantor gue lagi banyak kerjaan
banget waktu itu, rapat bertubi-tubi. Akhirnya, gue nyerah. Gue bed rest di
rumah.

Satu hari bed rest ternyata nggak membantu gue pada
kesembuhan. Malahan tambah parah. Thus, hari kamis, tanggal 31 Januari, gue ke
rumah sakit. Bokap gue bilang, lebih baik ke internist, supaya ketahuan
sakitnya kenapa.

Gue ke internist yang begitu ngeliat badan gue langsung
bilang, “Saya nggak berani mulang’in kamu kalo’ kayak begini. Di rawat aja
yah?”

Gue bingung. Ya ampun, cuman gatel-gatel doang, kenapa mesti
dirawat sih??? Nggak lucu banget!!!!

Tapi akhirnya, gue pun menyerahkan diri gue ke rumah sakit.
Lagipula. Gue pikir, mendingan di rumah sakit sih, daripada kalo’ di rumah,
yang ada gue malah cuman gangguin orang doang.

So, ngineplah gue di rumah sakit.

 

Friday, February 1st
2008

Salah satu hal yang paling gue nggak suka di rumah sakit
adalah jam bangun yang semena-mena. Jam 5 udah kudu bangun, jam 6 udah disuruh
mandi, bahkan makan. Buset!!! O iya, satu lagi, jam 5 kudu diambil darah.
Huhuhuhuhuuh… maleeeeesssshhhhh!!!!! Sama lah, kayak waktu sebelumnya gue
dirawat.

Gue inget banget, malemnya itu (Kamis malem) ujan deres
banget nggak kira-kira. Mulai dari gledeknya yang kebangetan sampe’ itu air
kaga berenti turun dari langit. Gue sih heran yah, kok bisa-bisanya ujan segede
gitu. Ngebuat gue nggak bisa tidur semaleman. Gara-gara gledek nggak
berperasaan itu. Udah gitu, jam 5 pagi buta benged itu, gue diambil darahnya.

Entah kenapa, gue jadi males ama jarum suntik. Padahal,
dulu, waktu gue tingkat satu, gue akrab banget looohhh ama jarum suntik.

Donor darah!!! Saya donor darah!!! Bukan ngobat!!! Makanya,
kalo’ orang lagi ngomong, biarin selesai dulu!!! Huh!!! Kecewa!!!

Tapi, kali kemaren, gue benci banget sama jarum itu. Sampe’
susternya bilang gini, “Waduh, darahnya kurang nih, diambil lagi yah?”
Waaaadddd???? Emangnya nggak sakit apa??? Sini tukeran!!!

Menyebalkan sih. Tapi ya sudahlah. Toh, gue juga pengen tau,
darah gue isinya apa sih? Siapa tau duit. Bisa buat bayar RS

kan

?

Setelah ambil darah, gue disuruh makan sama mandi. Ya
olooohhh, gue nggak seneng deh sama mandi. Periiiiihhhh banget. Akibat
garukan-garukan gue. Yang ada tiap mandi tuh, gue mau nangis aja kerjanya.
Sakit banget. Sempet terlintas di kepala gue, ya itu salah gue, kenapa juga
digaruk? Walaupun gue jawab lagi, di kepala gue juga, GATEL, DODOL!!!

Pagi itu gue dibawa ke poli kulit. Dokter kulit yang
nanganin gue, begitu ngeliat kulit gue, terus langsung nulis resep (ato itu
sebenarnya adalah pesan cinta antara dokter dengan orang apotik??? Mmm…).

O iya, gue lupa bilang. Akhir tahun lalu, gue sempet punya
luka di perut gue. Luka itu karena gatel juga, yang gue garuk, hingga akhirnya
luka. Cuman ternyata, luka itu membesar dan nggak kering-kering. Seringkali
basah malahan, cuman, gue nggak ke dokter karena gue pikir, itu luka biasa yang
bakalan kering kalo’ gue kasih betadine. Ternyata, luka itu yang jadi sebab
musabab gatel-gatelnya gue.

Abis dari poli kulit, gue di foto narsis, bagian thorax
doang tapinya. Kenapa?

Menurut dokter internist gue, ada kemungkinan kalo’ luka gue
itu disebabin oleh jamur. Kalo’ emang itu benar disebabkan oleh jamur, maka itu
bisa merambat sampe’ ke paru-paru. Akibatnya, ya lung failure-lah. Makanya, gue
akhirnya di foto thorax. Mungkin kalo’ kemungkinannya lari ke tengkorak gue,
muka gue yang bakalan difoto. Item putih loohhh, keliatan lebih kurus (tapi
tulang semua; pilih mana???).

Sorenya, dokter internist gue visit, dan bilang, tunggu
hasil lab. Kalo’ hasil lab-nya bagus, maka gue boleh pulang. Kalo’ nggak bagus,
ya diem aja di rumah sakit.

Waktu itu, gue kecewa berat. Karena gue merasa nggak tau apa
penyakit gue yang sebenarnya. Udah dalam kondisi nggak tau gitu, terus gue
dipulang’in pula. Kesel aja sih gue. Cuman yah, gue mau gimana?

Gue akhirnya ngomong ke kakak gue sih (yang sehari
sebelumnya marah’in gue setelah gue kasih liat luka gue di perut). Dan kata
kakak gue, ya gue harus bilang ke dokter. Tapi di lain pihak, gue juga males
sih di rumah sakit kalo’ penyakit gue rada nggak penting (walaupun sebenarnya
penting juga booo).

Bersambung kesini

Ime’…

Lagi Bodoh dan Serius

February 14th, 2008 by henriette-imelda

gileee, gue udah nulis panjang-panjang disini, terus ilang *yes, boong banget!!!*

eniwei, postingan gue ilang dengan sukses. benernya, gue cuman pengen polling ide aja. blog gue cukup banyak, terus blog gue yang disini mau gue tulis apa yah? gue punya multiply di http://henrietteimelda.multiply.com; punya blogspot juga:
the-world-of-ime.blogspot.com (hidup gue yang penuh warna dan warni; mereka kembar ternyata)
the-outer-space.blogspot.com (sgala kejadian yang kayaknya gue belum pernah merasa menjadi bagiannya, yet i care. sumpe gue bingung, kenapa gue jadi serius gini?)
my-sweat-world.blogspot.com (keringat? disini tempatnya :D)

jadi, gue tulis apa yah disini?

review buku gue taro di goodreads; review film ada di multiply.

jadi, blog ini buat apa? sayang lageeehhh kalo’ didelete :(

ime’…