Salatiga (2)
Friday, April 4th, 2008sambungan dari sini
tulisan ini adalah tulisan blog rally, dimana cerita ini bersambung dari satu blog ke blog lainnya. untuk bisa ngikutin cerita ini, ikutin aja link-nya
enjoy!!!
Gue udah pusing nyari-nyari di dalem bandara,
ternyata nggak di dalem boooo…. DI LUAR!!!! Huuuu uuuuhhhhh!!!!!!!!!!!! Dan
ternyata juga, waktu gue nyampe’ informasi, orang informasinya cuman bilang
gini, “Oh iya, bu, dari Quality (nama hotel tempat gue bakalan nginep di
Salatiga), katanya masih dalam perjalanan,” hah??? Well yah… sudahlah… mau
gimana lagi??? (btw, ini pesawat kok parkir deket banget yah sama ruang
tunggu??? – gue nulis bagian ini di bandara Ahmad Yani, dalam perjalanan pulang
ke Jakarta)
Eniwei, jemputan gue dateng. Seorang pemuda
manis (beneran manis), Manajemen UKSW angkatan 2000 (buseeeeddd!!!!), dia kerja
jadi supir di sebuah rental (kayaknya punya dia eniwei) yang kerja sama ama
tempat gue nginep.
Sepanjang perjalanan, kita (tepatnya dia)
banyak ngobrol. Setelah gue nyelesai’in baca koran The Jakarta Post yang gue
embat di pesawat, si mas-mas ini mulai cerita tentang legenda Salatiga (yang
gue nggak ngerti juga), Rawa Pening (well, masih masuk logika gue) dan Gajah
Putih (yang membuat gue nanya sama dia, “Emang kalo’ ada Gajah Putih kenapa?”
dan dia juga nggak tau). O iya, dia juga
nunjukin JALAN MASUK ke candi Songo (mbok ya dibelok’in gitu loh, masuk bentar,
terus keluar lagi).
Mas-mas ini sebenarnya orang Jogja, tapi dia
sekolah di Salatiga; yang tentu saja membuat gue bertanya, “Kenapa nggak
sekolah di Jogja aja?” dan dijawab, “Terlalu banyak tempat hiburan, takut nggak
kuat iman…” untung gue nggak ngakak di depan dia. Sumpe’, itu jawaban yang
paling ngebuat gue bingung.
Singkat cerita, gue nyampe’ di UKSW. Masih
mabok, karena tidur gue nggak bener selama beberapa hari terakhir, cuman buat
mikirin pesawat yang jam 6, gimana naiknya???? *ya naik aja*
Selagi gue nunggu giliran gue untuk
presentasi, gue ngeli’at ke sekeliling gue. Gue duduk di tengah-tengah (di
belakang sih sebenarnya) guru-guru SD-SMA. Rasanya nggak pernah kebayang sama gue
bisa ada di antara mereka dan kemudian berkontribusi untuk memperkaya ilmu
mereka. Bagi gue, guru adalah harta yang sangat berharga bagi gue. itu
sebabnya, gue jadi agak bingung aja, karena gue tiba-tiba harus
mempresentasikan sesuatu yang gue nggak akan bisa presentasi kalo’ bukan karena
mereka (siapa coba yang ngajarin gue baca sama nulis?).
Lucu sih… kesederhanaan orang-orang Salatiga
ini ngebuat gue merasa berada di dunia lain; berbeda dengan Jakarta yang
rasanya banyak banget beban mental di diri gue.
Akhirnya, giliran gue tiba. Beberapa
pertanyaan gue jawab dengan senang hati, karena gue tau kualitas pertanyaan
mereka akan sangat berguna untuk anak-anak didik mereka. Walaupun, gue noticed,
ada sekelompok guru yang selama gue presentasi tuh cekikikan sendiri di barisan
belakang. Sekarang gue baru nyadar, kenapa dulu guru-guru itu pada nggak suka
kalo’ anak-anak didiknya ngobrol sendiri di belakang, itu pemandangan yang
nggak enak dan sedikit ‘mengintimidasi’ elo, kalo’ elo sebenarnya membosankan.
Tapi, gue pikir, apa yang harus gue sampe’in, ya gue sampe’in aja. Ini bagus
kok buat anak-anak.
bersambung ke sini
ime’…